Kami yang belajar kepada mereka

Ar Rifdah, panti asuhan cacat ganda berdiri sejak 2006, bangunan yang terlihat sekarang adalah tempat ketiga, dimana dua tempat sebelumnya mereka belum diperkenankan oleh warga untuk menjadi bagian warga. Warga di dua tempat sebelumnya tidak berkenan menjadi tetangga mereka.

Adik – adik yang tinggal di sini pasti memiliki minimal 2 cacat yang mereka bawa sejak lahir, mental dan fisik, mulai dari bayi hingga yang sudah berusia 30an tahun.

Sejumlah 38 anak atau “berkelakuan mirip anak” tinggal disini. Semua yang tinggal disini dipastikan sudah di ikhlaskan oleh keluarganya, tidak sedikit yang tidak memiliki orang tua. Jalur nasab dan kerabatnya sepertinya tak mungkin dilacak. Berasal dari jalanan maupun tempat yg “terbuang” menjadikan tempat ini berkumpul calon – calon penghuni surga.

Dari merekalah kami belajar, menjadi seorang manusia terlahir “sempurna” yang seharusnya malu jika sampai mengeluh tentang beratnya hidup ini.

Dari mereka kami akhirnya benar – benar merasakan ketika ayat : “فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ” dalam Ar Rahman Diulang Sampai 31 Kali, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan” !

Dari mereka kami yakin, ketika mereka tidak bisa mencerna ayat yang memerintahkan “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”; Mereka tak tau apa itu “berfikir” tapi yakinlah mereka sedang menanti Janji Allah yang akan mengganti dengan sesuatu yang jauh lebih indah di hari akhir nanti. Ya mereka sedang menanti nama mereka dipanggil dari telaga kautsar. Sementara kami masih harus bersusah payah untuk mengupayakan amalan – amalan…

Ketika terkumpul “kebaikan” dalam status yatim piatu dan disabilitas yang mereka sandang, kami teringat tutur kata mulia dari panutan kami : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. Teriring doa terbaik untuk para pengurus yang telah merawat mereka.

Hanya sedikit sekali dari 38 orang yang bisa berbicara. Bahasa isyarat adalah bahasa yang paling dominan diantara canda dan tawa mereka. Di akhir perjumpaan kami, adik berbaju hijau itu meminta kepada kami, akhirnya kami tahu dia bisa berbicara, “Mau nanyi” …. WOW! Saya terkejut ada yang bisa nyanyi, lalu dia mulai bersenandung lagu yang indah :

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Dengan cara bernyanyi yang saya sendiri agak kesulitan mencerna lagu apa yang sedang dia nyanyikan, saya tidak yakin dia mengerti “pesan” dalam lagu itu, tapi dia membuat kami yakin, kalau kami harus mensyukuri apa yang ada, karena hidup adalah anugerah. Jadi mari tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.

Kepada merekalah kami belajar…
bagaimana kami harus tetap berdoa untuk orang tua kami, dan anak – anak kami…

One Reply to “Kami yang belajar kepada mereka”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *